Gotong Royong, sebagai salah satu nilai luhur bangsa Indonesia, menjadikan sesuatu yang tampak tak mungkin menjadi mungkin. Demikianlah yang terjadi saat Pusaka Indonesia bergotong royong dengan Samuel Asset Management menggelar Focussed Grup Discussion bertempat di Lt. 35 Menara Imperium Jakarta.
Saya sendiri terharu dan sukacita, dengan kesungguhan para narasumber yang beragam latar belakang, dalam mengungkapkan pandangan-pandangannya demi perbaikan Indonesia. Dari FGD ini kita menjadi mengerti banyak hal yang harus jadi perhatian bersama: mulai dari penguatan jatidiri bangsa Indonesia, keteguhan menjalankan konsensus para pediri bangsa, kedaulatan digital, hingga pentingnya memberi perhatian pada state capacity, industrial & technology power dan mengantisipasi institutional skelerosis (perapuhan kelembagaan negara).
Pusaka Indonesia memang sedang berproses, menguatkan diri, agar bisa lebih efektif dan berdaya dalam memberi sumbangsih bagi perbaikan bangsa. Kita berupaya scaling up lembaga ini yang merupakan kendaraan bagi perjuangan suci kita – katakanlah, yang semula mirip minivan, berproses menjadi truk tronton bahkan kapal induk. Maka, keberadaan satu circle dari para intelektual yang bisa menjalankan fungsi think tank menjadi sangat penting.
Bahwa Pusaka Indonesia sampai titik ini, dengan dana terbatas hasil saweran anggota, itu sudah prestasi dan anugerah luar biasa.
Catatan:
Narasumber yang datang dan bersumbangsih gagasan cerdas dalam agenda ini:
1. Muhsin Syihab, Duta Besar RI untuk Kanada;
2. Fithra Faisal Hastiadi Ph.D, Tim Pakar Badan Komunikasi (BAKOM) RI;
3. Achmad Didi Ardianto, IKAL PPSA 24 Lemhanas;
4. Intan Syah Ichsan Ph.D, Director, Chief Operating Officer PT. Samuel Aset Manajemen;
5. M. Hasbiansyah Zulfahri, Tenaga Ahli Menteri Kebudayaan RII;
6. Bapak Suwarjono, Wakil Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI);
7. Dede Prabowo
Diaspora Indonesia dan Board Member Gerakan Mari Berbagi;
8. Mumtaza Chairannisa, Research Assistant, Asia Middle East Center for Research and Dialogue.
APAKAH INDONESIA AKAN BUBAR DI 2026? ATAU SETIDAKNYA MENGALAMI RESESI EKONOMI YANG BERAT?
Masa depan adalah samudera kemungkinan. Segala hal bisa terjadi. Kita bisa saja memprediksi masa depan berdasarkan tanda-tanda yang terbaca di masa kini. Tetap saja tak ada prediksi yang pasti karena ada variabel yang bisa berubah.
Saya paling tidak suka mempublikasikan prediksi tentang masa depan yang buruk. Itu hanya jadi fear mongering meski diberi dalil agar waspada. Fear mongering alias penebaran ketakutan tak pernah membangkitkan kewaspadaan publik, bikin cemas dan muram sih iya. Jika Anda jadi penguasa dan melihat potensi masalah di masa depan, tak usah banyak bicara. Bereskan saja dengan kewenangan yang Anda punya. Senyap tapi solutif itulah pertanda kekuasaan yang waras.
Jika Anda rakyat jelata seperti saya, ya gak usah berisik juga. Perbanyak berdoa dengan sepenuh hati. Atau seperti yang saya lakukan: berupaya mengubah konstelasi karma kolektif, memperbaiki medan energi kolektif. Ini langkah senyap, gak berisik, tapi pasti berdampak – tak peduli Anda percaya atau tidak.
Maka saya tak pernah larut dengan ramalan para cerdik cendekia, akademisi, atau anak-anak indigo, tentang suramnya Indonesia. Saya bukan tak mengerti politik, sangat paham malah. Saya tak menafikan ada problem akut di dunia politik dan kenegaraan kita yang bisa bikin banyak orang pesimis. Tapi berisik, atau menebar nujuman buruk, tak pernah jadi solusi. Berisik yang berguna tampaknya hanya berkaitan dengan pemviralan ketidakadilan hukum. Dalam hal mengatasi problematika sistemik dalam kehidupan berbangsa bernegara, berisik itu jelas tak berguna. Ada cara lain dan itulah yang saya pilih: terus berkarya membangun optimisme dibarengi bekerja dalam sunyi memanggil kekuatan adikodrati.









