Mari kita merenung, bertanya-tanya, “Apakah Indonesia yang dicita-citakan oleh para pejuang kemerdekaan adalah Indonesia seperti saat ini? Dimana ketimpangan itu nyata: betapa berbedanya kemajuan antara pusat bisnis dan hunian orang kaya di Jakarta dengan kampung-kampung di pelosok NTT dan Papua? Dimana hutan sedemikian luas dibakar lalu berganti sawit dan tetap banyak orang Indonesia sulit mendapatkan lapangan pekerjaan? Dimana bukit-bukit diratakan demi nikel, juga tanah subur berubah jadi kubangan air beracun demi batu bara, sementara tetap banyak warga tetap miskin dan tak sedikit yang hidup berhimpitan di rumah petak?”
Jika para pejuang kemerdekaan dan para pendiri bangsa yang telah berpindah alam masih bisa menangis, mereka pasti menangis. Segala pengorbanan tenaga, pikiran, harta bahkan jawa, belum mengantarkan republik ini pada cita-ciita kemerdekaannya. Ya, mereka pasti menangis dalam lara menyaksikan tanah surga ini tercabik-cabik dan banyak rakyat yang hidup di atasnya terjebak nestapa.
Republik Indonesia, setelah lebih dari 81 tahun diproklamasikan sebagai negara merdeka, malah tergadai kedaulatannya. Negara ini tidak lagi dijajah negara manapun. Tetapi ia jatuh kepada penguasa sesama anak negeri yang memilih hanyut dalam kesibukan memperkaya diri dan menpertahankan kekuasaan, lupa mengayomi, melindungi dan mensejahterakan rakyat. Mereka yang berkuasa, membuat kebijakan yang menguntungkan segelintir orang, jauh dari keadilan, sehingga rakyat jelata hanya bisa memendam kesal di dada.
Direnungkan dengan penuh kejujuran, tak salah kita menilai bahwa negara ini memang tengah jatuh ke titik nadir. Negara ini menyimpang jauh dari cita-cita luhur berupa Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur. Negara ini juga jauh dari idealitas berbudaya sesuai jatidiri, berdikari secara ekonomi, dan berdaulat secara politik.
Lalu adakah titik terang? Secara hukum alam, titik nadir justru merupakan momentum titik balik. Saat malam makin gelap, itu juga penanda fajar hendak merekah. Selama ada patriot yang berhati murni di negeri ini, selalu ada peluang untuk datangnya perbaikan. Saya menyaksikan banyak orang baik yang mencintai negeri ini. Pasti datang keajaiban dan pertolongan saat ada orang-orang yang terus berjuang untuk Indonesia dengan ketulusan yang sempurna. Dalam kacamata hukum kosmik, segala upaya terbaik dari manusia yang hidup di bumi, adalah faktor penyebab datangnya pertolongan dari penghuni langit.
Memang, optimisme hanya muncul saat kita melampaui nalar empirik kita lalu menyelami realitas batin dan menghayati keberadaan Tuhan dengan segala kasih dan kuasaNya. Saya pribadi masih punya optimisme, semata-mata karena menyaksikan gerak alam dan bagaimana keajaiban bisa terjadi. Saya melihat bahwa keajaiban itu nyata dengan meluaskan cakrawala hingga mengerti dinamika politik, ekonomi dan kebudayaan di berbagai belahan dunia.
Yang harus kita lakukan sekarang adalah hening dan beraksi. Teruslah hening untuk mengikis watak durjana pada diri kita sembari terus bersumbangsih untuk negeri ini diberbagai bidang: mulai dari bidang lingkungan dan kebudayaan. Bersiaplah menyongsong masa depan yang bisa penuh kejutan, sembari sadar penuh bahwa jagad raya ini bekerja berdasarkan hukum alam yang adil dan presisi. Rajutan karma baik kolektif kita sangat menentukan apakah kita mendapatkan kejutan yang menyenangkan atau menyesakkan.
Saya mengajak Anda optimistik, bukan dengan lamunan kosong, tapi justru dengan menyelami kenyataan. Lihatlah bagaimana selalu ada titik balik menuju kehidupan surgawi setelah masa-masa yang penuh kesulitan. Setelah jaman kaliyuga yang berlarut pasti datang jaman satyayuga. Maka bersiaplah, tetap berjuang dengan sukacita, menyongsong cahaya yang memendar dari Timur.
Suatu waktu, pasti muncul ke permukaan, para pemimpin yang berjiwa murni, berhati bersih, yang sepenuhnya berjuang merebut kembali kedaulatan yang tergadai.
Setyo Hajar Dewantoro
Ketua Umum Pusaka Indonesia



