Skip to main content

Cerita Perjalanan Diri

Kata spiritual, memang bisa ditafsir dengan bamyak cara – sekaligus disalahpahami. Sebagian mengartikan spiritualitas sebagai jalan pintas untuk keluar dari kesulitan hidup, atau sebagai cara irasional untuk menjadi lebih kaya, populer dan berkuasa.

Guru Spiritual juga lazim dianggap sama dengan ‘orang pinter” atau “dukun” yang bisa dimintai bantuan menyelesaikan beragam masalah personal secara instant… tinggal wes hewes. Ya saya juga punya citra yang melekat semacam itu, karena dulu pernah membantu banyak orang dengan kekuatan supranatural. Saya memang pernah dipanggil ke sana sini untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit medis maupun non medis. Kadang juga harus membereskan rumah dan kantor yang dirasa penuh uka-uka.

Tentu saja, tak sedikit yang menempatkan saya sebagai tempat curhat, dengan harapan masalah mereka segera selesai. Saya jalani ini mulai dari level kampung, nasional hingga global. Ya, saya pernah jadi dukun panggilan mancanegara he he he.

Inilah bagian dari perjalanan saya. Tidak saya sesali. Karena ini pengalaman yang sangat berharga. Tapi saya perlu tegaskan, saya sudah pensiun jadi ‘orang pinter’ dan ‘dukun’. Sesuai pertumbuhan kesadaran saya, sejak 2019 saya tidak boleh lagi menjalankan peran-peran tersebut.

Selanjutnya, saya menjadi guru spiritual dalam arti yang lebih hakiki: menuntunkan jalan keselamatan jiwa, menuntun proses pertumbuhan kesadaran ilahi, membimbing pembangunan karakter luhur. Tepat di momen ini, saya harus berpisah dengan banyak orang yang semula mengaku sebagai murid saya. Dari ribuan orang, kini yang intensif belajar tinggal 300 orang dan yang serius belajar lebih sedikit lagi. Tentu saya mengerti bahwa saya harus mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas.

Kini, secara aktual, saya menjalankan banyak peran. Saya seorang entrepreneur, aktivis sosial politik, penulis, leader, cendekiawan, seniman. Karya dan lembaga saya sudah banyak dan akan terus bertumbuh.

Hal utama yang jadi kepedulian saya adalah memunculkan barisan manusia Indonesia yang patriotik, tulus, rendah hati, tangguh, otentik, penuh karya. Mimpi saya, label yang pernah dicanangkan Mochtar Lubis bisa berubah: orang Indonesia itu MUNAFIK.

Kebangsaan

Wujudkan Semangat Pancasila

Setyo Hajar DewantoroSetyo Hajar Dewantoro26 Januari 2026

Leave a Reply